Pengantar Saja

Kalau kamu tidak lebih baik daripada saya lebih baik kamu tidak usah lahir, dan saya tidak usah mati!....read more

Mengapa harus menulis?

apakah ketika kita menulis harus memiliki sebuah literature. Ide itu seringkali muncul, namun tidak dapat menuliskannya dan berhenti hanya di satu paragraf.....read more

Siapa Aku?

Aku cuma kembaran Tylor Lautner yg berasal dari desa kecil dengan sinyal telkomsel dan smartfren yg buruk....read more

Bicara Aqidah?

Aqidah seseorang tidak bisa diukur, maka jangan suka ribut-ribut masalah aqidah....read more

Nasib Produk tanpa Strategi Marketing

Rabu, 07 September 2016
Di atas adalah penampakan sebuah produk minuman Jamu Instan yang akan saya kupas perihal Strategi Marketing. Sebelumnya izinkan saya terlebih dahulu memperkenalkan produk ini. Bermerk "Kanigaran", nama tempat alasan nama produk ini dibuat. produk ini merupakan olahan bahan-bahan alami yang ada di dapur kita, gambar di atas adalah contoh produk Jahe Instant. Tentu saja terbuat dari jahe, yang ditransformasikan ke dalam bentuk bubuk. Home Industry terdaftar di dinkes dan mendapat no P-IRT.

Produk ini dikembangkan oleh teman saya, sebut saja "Ani" setelah mengikuti program pemerintah di Balai Latihan Kerja (BLK), berangkat dari iseng dan mendapat sambutan di lingkungan yang membuat Ani ini berani untuk benar-benar melepasnya ke pasar. Tidak tanggung-tanggung dengan kepiawaiannya membuat jamu, Ani meluncurkan 5 jenis produk ke pasar yaitu: Jahe Instan, Beras Kencur Intan, Kunyit Putih Intan, Temulawak Instan dan Kunci Sirih Instan.

Saya bertemu dengan Ani, Menannyakan apa saja aktivitasnnya, mulailah kami ngobrol ringan tentang aktivitasnya yaitu membuat jamu. Setelah mengakhiri pembicaraan, saya di janjikan akan diberi contoh produknya. Selang esokknya Ani menunjukkan dengan bangga produk hasil buatannya, saat itu Jahe instan yang dibawanya, saya pun menyambutnya dengan santai karena tak begitu tertarik. Sesampai di rumah, saya mencoba membuat minuman ini. Rasa memang tak seperti jahe buatan tangan saya sendiri karena ada sedikit sentuhan modernisasi di dalamnya. Di kesempatan lain saya mencoba menannyakan bagaimana dia bisa membuat jahe instan ini. Ani menerangkan proses membuat yang sama ketika dia mengikuti pelatihan di BLK.

Produk ini saat itu telah berjalan kurang lebih 3 bulan. Dengan teknik pemasaran "apa kata nanti", Ani menerangkan. Teangga dan pesanan teman-teman adalah pelanggannya, dan itu pun menurut saya sangat tidak menjajnjikan. Saya memberi masukan, ekspresi Ani pun gembira disusul mengkerut beberapa detik kemudian. Tenaga Ani habis di pembuatan, sehingga tak sampai memikirkan teknik pemasarannya. Saya pun tak peduli dengan itu, karena kami tinggal berlainan Kota.

Selang beberapa bulan, saya berbelanja di swalayan yang seluruh warga kota sangat mengenal tempat ini. Mendapati di rak ada semacam minuman Jahe intan berbentuk bubuk. Disaat itu pula saya ingat dengan produknya Ani. Saya tidak bernjak dari rak itu, tanpa membawa sebungkus minuman instan ini. Sesampai di rumah tanpa basa-basi saya segera "menelanjangi" dan membandingkannya dengan Kanigaran, produk si Ani. Berikut penampakan produk ini


Kesan pertama produk bermerk "Sidowaras" ini membat saya memandang sebelah mata Kanigaran. Hemat saya, Sidowaras lebih packaging di banding Kanigaran karena terdiri dari 10 bungkus kecil siap sedu di tiap paketnya. Namun secara tampilan lebih menarik Kanigaran dengan botol mungilnya.
 Saya mencoba membuat Sidowaras. Diseruputan pertama, kekaguman saya terhadap sidowaras sirna. Ternyata Rasa sangat berbeda jauh dengan Kanigaran. Bisa dikatakan secangkir Kanigaran itu adalah gabungan 5 cangkir sidowaras, tak terasa sekali Jahenya. Air gula rasa jahe, urung saya meminim jahe sidowaras ini lagi.

Yang saya herankan adalah bagaimana mungkin Sidowaras ini bisa sampai ke tangan yang saya beli di swalayan ternama, padahal tempat produksinya di luar kota sama seperti Kanigaran (sama-sama luar kota tapi Sidowaras dan Kanigaran bukan di kota yang sama).  Nah sejak saat itu saya mulai berpikir tentang Strategi Pemasaran. Berangkat dari penjelasan di atas, saya tertantang untuk belajar marketing dan mengikuti kuliah online Universitas Ciputra Entrepreneurship Online (UCEO).

Di Kuliah pertama, saya disuguhkan Analisis 3C oleh Bapak Nur Agustinus, S. Psi, M. Psi yaitu Analisis Customer, Analisis Company, dan Analisis Competitiors. Mulailah saya telanjangi si Kanigaran ini dengan 3C

Customer; di perkembangannya, Kanigaran memang tak memiliki jangkauan pelanggan yang luas, itu sebabnya produk ini jalan di tempat dan tidak sampai ke kota saya. mengapa demikian? karena marketing yang kurang masif alias tanpa strategi.

Company, sungguh naif memang jika mengatakan produk Kanigaran tidak sukses.Karena usia yang masih belia. Home Industry dan tak tersentuh teknik marketing yang memadai adalah faktornya. Produk ini masuk ke dalam kategori Nicher.

Competitors, Perlu diketahui, ada empat kategori dalam Competitive Position, yaitu Market Leader, Market Challenger, Follower dan Nicher. Untuk lebih lengkapnya silakan mengikuti Kuliah Online UCEO materi Strategi Pemasaran.
Saya lanjutkan, anehnya si Kanigaran ini tak memiliki kompetitor di tempat produksi di mana dia dibuat. Namun di Kota saya tinggal, kompetitornya banyak hampir disemua kategori. Untuk Kategori Follower sendiri, salah satu contohnya Sidowaras. Challenger: Jahe Keraton dan Leader: Tolak Angin Sidomuncul.

Dari situlah saya berencana untuk menerapkan ilmu yang saya dapat di kuliah online ini terhadap produk Kanigaran. Saya mulai dari Materi minggu pertama tentang Analisis 3C. Semoga bermanfaat

0 komentar:

Posting Komentar